Teknologi Sistem Cerdas Dalam Kehidupan Sehari-Hari

1. ATM
ATM (Automatic teller machine atau automated teller machine, di Indonesia juga kadang merupakan singkatan bagi anjungan tunai mandiri) adalah sebuah alat elektronik yang mengijinkan nasabah bank untuk mengambil uang dan mengecek rekening tabungan mereka tanpa perlu dilayani oleh seorang “teller” manusia.

Komponen ATM

Setiap transaksi yang terjadi informasinya akan diterima oleh komputer kemudian dikirimkan ke pusat data melalui sarana telekomunikasi bisa line telpon, Vsat maupun radio, ATM ini dapat dimonitor statusnya dari pusat data sehingga dapat diketahui apakah ATM ini sedang mati atau uangnya sudah habis.

Mesin ATM terdiri dari 2 bagian :
a. Bagian Atas (Upper Compartement) :
– Monitor
– Customer keypad
– Card reader
– Journal printer
– Receipt Printer

Bagian Bawah (Lower Compartement) :
– Combination lock
– Dispenser module
– Cash cassette
– Reject cassette
– CPU

CARA KERJA ATM

ATM adalah merupakan sebuah terminal data yang mempunyai dua perangkat input dan empat perangkat output. Seperti halnya sebuah terminal data, ATM harus memiliki koneksi ,terhubung, dan berkomunikasi melalui sebuah host processor (pusat proses). Pusat proses yang disertai oleh Internet service provider (ISP) yg berfungsi sebagai jalur gateway untuk menuju keberbagai macam jaringan ATM dan menjadikan berfungsi bagi si pemegang kartu ATM (orang yang menginginkan uang).

ATM.jpg

Input : kartu ATM yang terdapat magnetic strip

Proses : Pada magnetic strip biasanya tertulis data pribadi pemegang kartu, yang berisi nomor rekening, nomor pribadi serta kode access-nya. Dan tulisan ini ditulis dalam bentuk kode-kode tertentu, dan hanya bisa dibaca oleh komputer yang dilengkapi dengan mesin khusus untuk kartu magnetic strip tersebut.

Output : kita dapat mengambil dan mentransfer uang ke rekening bank lain yang menyebabkan perubahan dari rekening kita.

2. Siri

SIRI.jpg

Siri adalah program komputer yang bekerja sebagai asisten pribadi cerdas. Bagian dari sistem operasi Apple Inc. iOS, watchOS, macOS, and tvOS. Siri menggunakan bahasa natural antarmuka pengguna untuk menjawab pertanyaan, membuat rekomendasi, dan melakukan perintah dengan mengirimkan permintaan kepada layanan Web. Siri berdaptasi dengan bahasa yang digunakan pengguna dan pencarian yang digunakan oleh pengguna secara kontinu sebagai preferensi, dan memberikan hasil yang sesuai. Siri awalnya dikenalkan sebagai aplikasi iOS yang tersedia di App Store oleh Siri Inc., yang diakusisi kemudian oleh Apple pada 28 April 2010. Ada beberapa aksen dan kombinasi gender untuk suara Siri.

Pada teknologi ini, terdapat 3 prosedur utama yaitu Input, Proses, Output. Berikut ini adalah flowchart dari cara kerja teknologi ini :

FW SIRI.png

Input : dari teknologi ini adalah suara kita. Kita memasukkan suara kita ke teknologi ini dengan cara merekam suara kita dengan microphone pada smartphone kita.

Proses : dari teknologi ini dimulai seteah kita memasukkan suara kita. Teknologi ini membaca suara kita, menerjemahkannya menjadi teks, dan mencari perintah yang terdapat pada teks.

Output : setelah teknologi ini mencari perintah pada teks, teknologi ini akan memberikan hasil yang sesuai dengan perintah yang terdapat pada suara yang kita input. Hasil dari teknologi ini juga akan dijadikan sebagai preferensi perintah teknologi ini.

3. PINTU GESER OTOMATIS

Pintu otomatis dapat bekerja untuk membuka dan menutup secara otomatis dengan menggunakan teknologi sensor. Sensor merupakan suatu perangkat yang dapat mendeteksi keberadaan seseorang atau objek lainnya ketika orang atau objek tersebut mendekati pintu otomatis. Biasanya, sensor-sensor tersebut akan diletakkan di sekitar pintu otomatis. Sensor-sensor ini juga akan diletakkan di kedua sisi yaitu sisi dalam dan sisi luar pintu otomatis tersebut, sehingga pintu otomatis dapat bekerja dari kedua sisi. Sensor kemudian akan mengaktifkan sistem yang akan menggerakkan motor yang akan membuka dan menutup pintu otomatis.

Cara Kerja dan Jenis-Jenis Sensor pada Pintu Otomatis

Sensor Optik
optik

Sensor ini akan memancarkan tirai infra merah yang berupa cahaya yang tidak tampak oleh mata pada jarak jangkauan tertentu. Sensor ini akan bereaksi jika seseorang atau sesuatu menghalangi cahaya infra merah yang dipancarkan. Jika seseorang memasuki area yang disinari dengan cahaya ini, maka pancaran cahaya akan terganggu dan menjadi tidak utuh. Hal ini menyebabkan program perintah untuk menutup pintu terganggu. Terganggunya program untuk menutup pintu akan menyebabkan pintu otomatis akan terbuka. Jika objek telah menjauh dari jarak jangkauan sensor dan sinar sensor kembali utuh, maka pintu otomatis akan menutup kembali.

Sensor Gerakan
gerak

Sensor ini akan memancarkan radar gelombang mikro. Hampir sama seperti pada sensor optik, jika seseorang atau sesuatu berada dalam jangkauan radar maka sensor akan bereaksi membuka pintu otomatis.

Sensor Panas Tubuh
panas

Ketika seseorang berada di depan sensor panas tubuh, maka sensor panas tubuh akan menghitung panjang gelombang yang dihasilkan oleh tubuh manusia tersebut. Ketika orang tersebut berada dalam keadaan diam, maka panjang gelombang yang dihasilkan berupa panjang gelombang yang konstan dan menyebabkan energi panas yang dihasilkan digambarkan hampir sama dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Ketika orang tersebut melakukan gerakan, maka panjang gelombang yang dihasilkan berupa panjang gelombang yang bervariasi sehingga menghasilkan panas yang berbeda dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Panas yang dihasilkan ini akan dideteksi oleh sensor dan dilanjutkan dengan reaksi untuk membuka pintu otomatis.

Sensor Tekanan
tekanan

Sensor ini biasanya diletakkan di bawah keset yang berada di depan pintu. Sensor ini akan bereaksi terhadap tekanan berat objek yang berada di atasnya. Dan jika sensor telah menerima batasan minimal berat yang diperlukan untuk membuka pintu, maka pintu otomatis pun akan terbuka.

Sensor Jarak Jauh
jarak

Pada sensor ini dibutuhkan pengendali jarak jauh yang dioperasikan secara manual untuk membuka dan menutup pintu. Sensor jenis ini biasanya dipakai pada pintu garasi otomatis.

palang

Input : adanya objek disekitar sensor

Proses : gerakan, tekanan, jarak dan suhu tubuh ditangkap oleh sensor

Output : pintu geser otomatis terbuka dan bila tidak ada objek yang tertangkap ia tertutu

 

 

 

 

 

TUGAS 3 INOVASI SI&TEKNOLOGI INFO.MODERN

3.3.

Langkah-langkah yang diperlukan dalam siklus pengembangan suatu sistem informasi untuk membangun dan mengimplementasikan sistem informasi bisnis di suatu perusahaan.
Pengembangan sistem informasi manajemen dilakukan melalui beberapa tahap, dimana masing-masing langkah menghasilkan suatu yang lebih rinci dari tahap sebelumnya. Tahap awal dari pengembangan sistem umumnya dimulai dengan mendeskripsikan kebutuhan pengguna dari sisi pendekatan sistem rencana stratejik yang bersifat makro, diikuti dengan penjabaran rencana stratejik dan kebutuhan organisasi jangka menengah dan jangka panjang. Masukan (input) utama yang dibutuhkan dalam tahap ini mencakup:

  • Kebutuhan stratejik organisasi
    • Aspek legal pendukung organisasi
    • Masukan kebutuhan dari pengguna

Secara garis besar ada enam tahap yang biasa dijadikan sebagai batu pijakan atau model dalam melaksanakan aktivitas pengembangan sistem informasi, yaitu: perencanaan, analisis, desain, konstruksi, implementasi, dan pascaimplementasi.

  1. Tahap Perencanaan

Tahap ini merupakan suatu rangkaian kegiatan sejak ide pertama yang melatarbelakangi pelaksanaan pengembangan sistem tersebut dilontarkan. Dalam tahap perencanaan pengembangan sistem harus mendapatkan perhatian yang sama besarnya dengan merencanakan proyek-proyek besar lainnya, seperti perencanaan pengadaan perangkat jaringan teknologi informasi (TI), rencana membangun gedung kantor 15 tingkat. Keuntungan-keuntungan yang diperoleh jika proyek pengembangan sistem informasi direncanakan secara matang, mencakup:
Ø Ruang lingkup proyek dapat ditentukan secara jelas dan tegas. Unit organisasi, kegiatan ataun sistem yang mana yang akan dilibatkan dalam pengembangan ini dan unit mana yang tidak dilibatkan? Informasi ini memberikan perkiraan awal besarnya sumber daya yang diperlukan.
Ø Dapat mengidentifikasi wilayah/area permasalahan potensial. Perencanaan akan menunjukkan hal-hal yang mungkin bisa terjadi suatu kesalahan, sehingga hal-hal demikian dapat dicegah sejak awal.
Ø Dapat mengatur urutan kegiatan. Banyak sekali tugas-tugas terpisah dan harus berjalan secara bersamaan/paralel yang diperlukan untuk pengembangan sistem. Tugas-tugas ini diatur dalam urutan logis berdasarkan prioritas informasi dan kebutuhan untuk efisiensi.
Ø Tersedianya sarana pengendalian. Tingkat pengukuran kinerja harus dipertegas sejak awal.

  1. Tahap Analisis

Ada dua aspek yang menjadi fokus tahap ini, yaitu aspek bisnis atau manajemen dan aspek teknologi. Analisis aspek bisnis mempelajari karakteristik organisasi yang bersangkutan. Tujuan dilakukannya langkah ini adalah untuk mengetahui posisi atau peranan teknologi informasi yang paling sesuai dan relevan di organisasi dan mempelajari fungsi-fungsi manajemen dan aspek-aspek bisnis terkait yang akan berpengaruh atau memiliki dampak tertentu terhadap proses desain, konstruksi, dan implementasi. Selama tahap analisis, sistem analis terus bekerjasama dengan manajer, dan komite pengarah SIM terlibat dalam titik-titik yang penting mencakup kegiatan sebagai berikut:

  1. Menetapkan rencana penelitian sistem
    b. Mengorganisasikan tim proyek
    c. Mendefinisikan kebutuhan informasi
    d. Mendefinisikan kriteria kinerja sistem
    e. Menyiapkan usulan rancangan sistem
    f. Menyetujui atau menolak rancangan proyek pengembangan sistem

Keluaran dari proses analisis di kedua aspek ini adalah masalah-masalah penting yang harus segera ditangani, analisis penyebab dan dampak permasalahan bagi organisasi, beberapa kemungkinan skenario pemecahan masalah dengan kemungkinan dan dampak risiko serta potensinya, dan pilihan alternatif solusi yang direkomendasikan.

  1. Tahap Perancangan (Desain)

Pada tahap ini, tim teknologi informasi bekerja sama dengan tim bisnis atau manajemen melakukan perancangan komponen-komponen sistem terkait. Tim teknologi informasi akan melakukan perancangan teknis dari teknologi informasi yang akan dibangun, seperti sistem basis data, jaringan komputer, teknik koversi data, metode migrasi sistem, dan sebagainya.
Sementara itu, secara paralel dan bersama-sama tim bisnis atau manajemen, dan tim teknologi informasi akan melakukan perancangan terhadap komponen-komponen organisasi yang terkait, seperti: standard operating procedures (SOP), struktur organisasi, kebijakan-kebijakan, teknik pelatihan, pendekatan SDM, dan sebagainya. Langkah-langkah tahap rancangan sistem mencakup:

  1. Menyiapkan detail rancangan sistem
    b. Mengidentifikasi berbagai alternatif konfigurasi/rancang banun sistem
    c. Mengevaluasi berbagai alternatif konfigurasi sistem
    d. Memilih konfigurasi terbaik
    e. Menyiapkan usulan penerapan/aplikasi
    f. Menyetujui atau menolak aplikasi sistem
  2. Tahap Pembangunan Fisik/Konstruksi

Berdasarkan desain yang telah dibuat, konstruksi atau pengembangan sistem yang sesungguhnya (secara fisik) dibangun. Tim teknis merupakan tulang punggung pelaksanaan tahap ini, mengingat semua hal yang bersifat konseptual harus diwujudkan dalam suatu konstruksi teknologi informasi dalam skala yang lebih detail.

Dari semua tahapan yang ada, tahap konstruksi inilah yang biasanya paling banyak melihatkan sumber daya terbesar, terutama dalam hal penggunaan SDM, biaya, dan waktu. Pengendalian terhadap manajemen proyek pada tahap konstruksi harus diperketat agar penggunaan sumber daya dapat efektif dan efisien. Bagaimanapun, hal ini akan berdampak terhadap keberhasilan proyek sistem informasi yang diselesaikan secara tepat waktu. Akhir dari tahap konstruksi biasanya berupa uji coba atas sistem informasi yang baru dikembangkan.

  1. Tahap Implementasi

Tahap implementasi merupakan tahap yang paling kritis karena untuk pertarna kalinya sistem informasi akan dipergunakan di dalam organisasi. Ada berbagai pendekatan untuk implementasi sistem yang baru didesain. Pekerjaan utama dalam implementasi sistem biasanya mencakup hal-hal sebagai berikut:

  1. Merencanakan waktu yang tepat untuk implementasi
    b. Mengumumkan rencana implementasi
    c. Mendapatkan sumberdaya perangkat keras dan lunak
    d. Menyiapkan database
    e. Menyiapkan fasilitas fisik
    f. Memberikan pelatihan dan workshop
    g. Menyiapkan saat yang tepat untuk cutover (peralihan sistem)
    h. Penggunaan sistem baru

Pemberian pelatihan (training) harus diberikan kepada semua pihak yang terlibat sebelum tahap implementasi dimulai. Selain untuk mengurangi risiko kegagalan, pemberian pelatihan juga berguna untuk menanamkan rasa memiliki terhadap sistem baru yang akan diterapkan. Dengan cara ini, seluruh jajaran pengguna akan dengan mudah menerima sistem tersebut dan memeliharanya dengan baik di masa-masa mendatang.

  1. Tahap Pasca Implementasi

Pengembangan sistem informasi biasanya diakhiri setelah tahap implementasi dilakukan. Namun, ada satu tahapan lagi yang harus dijaga dan diperhatikan oleh manajemen, yaitu tahap pasca implementasi. Kegiatan yang dilakukan di tahap pasca implementasi adalah bagaimana pemeliharaan sistem akan dikelola.

Seperti halnya sumber daya yang lain, sistem informasi akan mengalami perkembangan di kemudian hari. Hal-hal seperti modifikasi sistem, berpedoman ke sistem lain, perubahan hak akses sistem, penanganan terhadap fasilitas pada sistem yang rusak, merupakan contoh dari kasus-kasus yang biasanya timbul dalam pemeliharaan sistem. Disinilah diperlukan dokumentasi yang memadai dan pemindahan pengetahuan dari pihak penyusun sistem ke pengguna untuk menjamin terkelolanya dengan baik proses-proses pemeliharaan sistem.

Dari perspektif manajemen, tahap pasca-implementasi adalah berupa suatu aktivitas di mana harus ada personil atau divisi yang dapat melakukan perubahan atau modifikasi terhadap sistem informasi sejalan dengan perubahan kebutuhan bisnis yang dinamis.

TUGAS 3 INOVASI SI&TEKNOLOGI INFO.MODERN

3.2

Virtual Reality adalah teknologi yang sanggup menghidupkan adegan dalam bentuk 3D (3 Dimensi) yang nyata, sehingga membuat pemakainya merasa seperti berada di dunia nyata meskipun simulasi yang ada di depannya adalah fantasi saja. Biasanya reality membutuhkan peralatan yang sangat khusus, dan beberapa diantaranya adalah screen. Dimana screen ini nantinya akan menampilkan bentuk lingkungannya, kemudian speaker yang digunakan untuk menerima segala jenis informasi pendengaran.

Lalu ada juga tracker yang digunakan untuk melakukan monitoring gerakan dari kepala user, ada juga glove yang bisa digunakan untuk menangkap pergerakan tangan dan juga proses mengirimkan infomasi dari gerakan menuju ke sistem. Ada juga walker yang digunakan untuk memantau kaki dan masih banyak jenis peralatan lainnya.

Untuk cara kerja dari virual reality pada prinsipnya, seorang user nantinya akan melihat satu dunia semu yang sebenarnya merupakan gambar dinamis hasil dari simulasi sebuah komputer. Melalui peralatan khusus dari VR ini, User nantinya bisa melakukan interaksi dengan dunia yang semu sehingga bisa mendapatkan umpan bali yang jauh lebih baik secara fisik dan psikologis.

Salah satu teknologi virtual reality yang saat ini sedang viral adalah Oculus rift dan Google cardboard. Melalui perangkat tersebut, Kita mampu merasakan pengalaman virtual berupa objek 3D. implementasi teknologi virtual reality diantaranya dalam bidang arsitektur, pendidikan, militer, dan hiburan. Beberapa aplikasi  virtual realitykhususnya dalam bidang hiburan game yaitu The Sims dan Haunted the horror experience.

Augmented Reality  adalah teknologi yang sebenarnya menggabungkan beda maya dan menda nyata dalam satu lingkungan nyata 3 dimensi yang kemudian benda ini di proteksikan sehingga terintegrasi dan berjalan dengan lebih interakitf dalam dunia yang nyata.

Untuk teknologi yang digunakan biasanya adalah dalam bidang militer, medis, manufaktur dan juga komunikasi yang memiliki resiko yang besar dan memang membutuhkan tambahan benda semu yang meniru benda nyata sebelum mereka akan diterapkan.

Pada dasarnya jenis augmented reality ini memang sangat membutuhkan input device misalnya adalah kamera atau webcam, kemudian diperlukan tracker yang mana benda ini nantinya bisa menjadi marker dari sebuah hasil yang berjalan dengan cara yang real time atau mungkin yang leih interaktif.

Walaupun benda ini menjadi salah satu induk yang digeser dari komputer untuk bisa menjalan program yang dijalankan dengan AR. Sebenarnya augemented reality ini bisa bekerja dengan berdasarkan deteksi citra yang digunakan oleh seorang marker.

Dimana prinsip kerjanya sendiri adalah kamera yang dilengkapi dengan kalibrasi akan melakukan deteksi marker yang nantinya akan diberikan, selanjutnya setelah mengenali dan menandai pola dari marker, maka selanjutnya webcam akan melakukan proses perhitungan.

Apakah marker akan sesuai dengan database yang anda miliki. Jika berbeda maka informasi marker tidak akan dilah tapi jika nantinya sesuai maka informasi dari marker juga biosa digunakan untuk melakukan proses render dan menampilan jenis objek 3D animasi yang telah dibuat sebelum memulainya.

Salah satu aplikasi augmented reality yang saat ini bisa diakses adalah Ingress. Aplikasi game augmented reality ini merupakan besutan Google, dimana untuk memainkannya  kita hanya membutuhkan smartphone. Berbeda dengan augmented reality, teknologi virtual reality merupakan teknologi yang menjadikan Kita mampu berinteraksi dengan simulasi lingkungan oleh komputer.

TUGAS 3 INOVASI SI&TEKNOLOGI INFO.MODERN

3.1 .

Web 1.0

web 1.0 adalah merupakan teknologi web yang pertama kali digunakan dalam aplikasi world wide web, atau ada yang menyebut web 1.0. sebagai www itu sendiri yang banyak digunakan dalam situs web yang bersifat personal.
Beberapa ciri atau karakteristik web 1.0. adalah:
1. Merupakan halaman web yang statis atau hanya berfungsi untuk
menampilkan.
2. Halaman masih didesain sebagai html murni, yang ‘hanya’
memungkinkan orang untuk melihat tanpa ada interaksi
3. Biasanya hanya menyediakan semacam buku tamu online tapi tidak
ada interaksi yang intens
4. Masih menggunakan form-form yang dikirim melalui e-mail, sehingga
komunikasi biasanya baru satu arah.

Contoh Dari WEB 1.0

WEB 1.0
Double Click
Ofoto
Akamai
Mp3.com
Britannica Online
Page View
Content Management System
Directory ( Taxonomy )
Stickiness
 
Web 2.0
Web 2.0, adalah sebuah istilah yang dicetuskan pertama kali oleh O’Reilly Media pada tahun 2003, dan dipopulerkan pada konferensi web 2.0 pertama di tahun 2004, merujuk pada generasi yang dirasakan sebagai generasi kedua layanan berbasis web—seperti situs jaringan sosial, wiki, perangkat komunikasi, dan folksonomi—yang menekankan pada kolaborasi online dan berbagi antar pengguna. O’Reilly Media, dengan kolaborasinya bersama MediaLive International, menggunakan istilah ini sebagai judul untuk sejumlah seri konferensi, dan sejak 2004 beberapa pengembang dan pemasar telah mengadopsi ungkapan ini.
Walaupun kelihatannya istilah ini menunjukkan versi baru daripada web, istilah ini tidak mengacu kepada pembaruan kepada spesifikasi teknis World Wide Web, tetapi lebih kepada bagaimana cara si-pengembang sistem di dalam menggunakan platform web.
Mengacu pada Tim Oreilly, istilah Web 2.0 didefinisikan sebagai berikut:
“Web 2.0 adalah sebuah revolusi bisnis di dalam industri komputer yang terjadi akibat pergerakan ke internet sebagai platform, dan suatu usaha untuk mengerti aturan-aturan agar sukses di platform tersebut. ”
Prinsip-prinsip Web 2.0
1. Web sebagai platform
2. Data sebagai pengendali utama
3. Efek jaringan diciptakan oleh arsitektur partisipasi
4. Inovasi dalam perakitan sistem serta situs disusun dengan
menyatukan fitur dari pengembang yang terdistribusi dan independen
(semacam model pengembangan “open source”)
5. Model bisnis yang ringan, yang dikembangkan dengan gabungan isi
dan layanan
6. Akhir dari sikllus peluncuran (release cycle) perangkat lunak
(perpetual beta)
7. Mudah untuk digunakan dan diadopsi oleh user

Contoh Dari WEB 2.0

WEB 2.0
Google adsense
Flickr
BitTorrent
Napster
Wikipedia
Cost Per Click
Wikis
Tagging ( Folksonomy )
Web 3.0
Hingga kemudian muncul era yang lebih baru lagi yaitu Web 3.0. Teknologi Web generasi ketiga yang pertama kali diperkenalkan tahun 2001 ini memiliki ciri-ciri umum seperti suggest, happen dan provide, dimana disini web seolah-olah sudah seperti kehidupan di alam nyata.
Web 3.0 sendiri juga merupakan sebuah realisasi dari pengembangan sistem kecerdasan buatan (artificial intelegence) untuk menciptakan global meta data yang dapat dimengerti oleh sistem, sehingga sistem dapat mengartikan kembali data tersebut kepada pengunjung dengan baik.
Saat ini adaptasi Web 3.0 mulai dikembangkan oleh beberapa perusahaan di dunia seperti secondlife, Google Co-Ops, bahkan di Indonesia sendiri juga sudah ada yang mulai mengembangkannya, yaitu Li’L Online (LILO) Community.
Dalam era web 3.0, pengembangan aspek sosial sebuah web mulai dipertimbangkan. Aspek sosial yang dimaksud, terutama adalah aspek interaksi. Bagaimana sebuah web dapat memberikan sebuah interaksi sesuai dengan kebutuhan informasi setiap pemakaianya, merupakan sebuah tantangan utama dikembangkannya versi Web 3.0 ini. Walaupun hanya bersifat virtual 3D, namun ternyata banyak yang mengharapkan perkembangan teknologi web ini dapat memenuhi kebutuhan setiap bidang informasi, bahkan setiap orang yang mengunjunginya.
Sebagai teknologi masa depan, Web 3.0 juga membutuhkan kecepatan akses Internet yang memadahi dan spesifikasi komputer yang tidak enteng, hal ini disebabkan tak lain karena teknologi ini secara visual berbasis 3D. Sedangkan seperti yang kita tahu biaya akses Internet dengan kecepatan tinggi di Indonesia ini masih terbilang mahal bagi masyarakat umum. Belum lagi jika dihitung dari biaya spesifikasi perangkat komputer yang dibutuhkan, mungkin masyarakat Indonesia yang ingin menikmati kecanggihan layanan berbasis teknologi Web 3.0 masih harus menarik nafas penjang. Namun karena Web 3.0 sendiri masih dalam pengembangan, seiring dengan berlalunya waktu sebagai masyarakat Indonesia kita masih bisa mengharapkan bahwa biaya komunikasi, dalam hal ini koneksi Internet kecepatan tinggi akan semakin murah nantinya, sehingga terjangkau bagi masyarakat luas.
Web era ini bisa dibilang sangat care dengan kebutuhan kita karena menyediakan apa saja yang kita butuhkan. Contoh sederhana, dengan dukungan teknologi 3-D animasi, kita bisa membuat profil avatar sesuai karakter kita kemudian melakukan aktivitas di dunia maya layaknya kehidupan sehari-hari kita di dunia nyata, mulai dari jalan-jalan, ke mall, ke book store, bercakap-cakap dengan teman lain, dsb. Kalau bisa disimpulkan, Web 3.0 adalah dunia virtual kita. Dia mampu memberi saran dan nasehat untuk kita disamping menyediakan apa yang kita butuhkan. Memang, ini menjadi salah satu keunikan dari Web 3.0 karena konsep dasar yang digunakannya adalah manusia dapat berkomunikasi dengan mesin pencari. Misal, kita bisa meminta Web mencari suatu data spesifik tanpa perlu kita susah payah mencari satu per satu dalam situs-situs Web. Hasil yang diberikan pun juga relevan.

Contoh web 3.0 :  search engine seperti  Google (http://www.google.co.id.).

TUGAS 3 AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI

Tujuan Pengendalian dan Kontrol

Tujuan pengendalian dan kontrol secara langsung berasal dari dan selaras dengan yang tercantum dalam ISO / IEC 17799: 2005 Klausul 5 sampai 15. Organisasi dapat mempertimbangkan bahwa tujuan pengendalian tambahan dan kontrol yang diperlukan. tujuan pengendalian dan kontrol harus dipilih sebagai bagian dari proses ISMS.

ISO / IEC 17799: 2005 Klausul 5 sampai 15 memberikan saran penerapan dan panduan tentang praktek terbaik dalam mendukung kontrol ditentukan dalam A.5 untuk A.15.

A.5 Keamanan

A.5.1 Kebijakan Keamanan Informasi

Objektif: Untuk memberikan arahan manajemen dan dukungan untuk keamanan informasi sesuai dengan bisnis persyaratan dan hukum yang relevan dan regulations.

A.6 Organisasi Keamanan Informasi

A.6.1 Internal Organisasi

Objektif: Untuk mengelola keamanan informasi dalam organisasi.

A.6.2 Pesta Diluar

Objektif: Untuk menjaga keamanan informasi dan pengolahan informasi fasilitas organisasi yang diakses, diproses, dikomunikasikan kepada, atau dikelola oleh pihak eksternal.

 

A.7 Manajemen Aset

A.7.1 Tanggung Jawab Untuk Aset

Objektif: Untuk mencapai dan mempertahankan perlindungan yang tepat dari aset organisasi.

            A.7.2 Klasifikasi Informasi

Objektif: Untuk memastikan informasi yang menerima tingkat perlindungan.

A.8 Keamanan Sumber Daya Manusia

A.8.1 Sebelum Kerja 4

Objektif: Untuk memastikan bahwa karyawan, kontraktor dan pengguna pihak ketiga memahami tanggung jawab mereka, dan cocok untuk peran mereka dianggap untuk, dan untuk mengurangi risiko pencurian, penipuan atau penyalahgunaan fasilitas.

            A.8.2 Selama Kerja

Objektif: Untuk memastikan bahwa semua karyawan, kontraktor dan pengguna pihak ketiga sadar ancaman keamanan informasi dan kekhawatiran, tanggung jawab mereka dan kewajiban, dan dilengkapi untuk mendukung kebijakan keamanan organisasi dalam program kerja normal mereka, dan untuk mengurangi risiko kesalahan manusia.

            A.8.3 Penghentian atau Perubahan Pekerjaan

Objektif: Untuk memastikan bahwa karyawan, kontraktor dan pengguna pihak ketiga keluar organisasi atau mengubah kerja secara tertib.

A.9 Fisik dan Keamanan Lingkungan

A.9.1 Daerah Aman

Objektif: Untuk mencegah tidak sah fisik akses, kerusakan dan gangguan ke lokasi dan informasi organisasi.

A.9.2 Keamanan Peralatan

Objektif: Untuk mencegah kerugian, kerusakan, pencurian atau kompromi aset dan gangguan untuk kegiatan organisasi.

A.10 Komunikasi dan Manajemen Operasional

A.10.1 Prosedur Operasional dan Tanggung Jawab

Objektif: Untuk memastikan operasi yang benar dan aman fasilitas pengolahan informasi.

A.10.2 Pihak Ketiga Manajemen Pelayanan

Objektif: Untuk menerapkan dan memelihara tingkat yang tepat dari keamanan informasi dan pelayanan sesuai dengan perjanjian pelayanan pihak ketiga.

A.10.3 Sistem Perencanaan dan Penerimaan

Objektif: Untuk meminimalkan risiko kegagalan sistem.

A.10.4 Perlindungan Terhadap Kode Berbahaya dan Mobile

Objektif: Untuk melindungi integritas perangkat lunak dan informasi.

A.10.5 Back-Up

Objektif: Untuk menjaga integritas dan ketersediaan fasilitas pengolahan informasi dan informasi.

A.10.6 Manajemen Keamanan Jaringan

Objektif: Untuk menjamin perlindungan informasi dalam jaringan dan perlindungan infrastruktur pendukung.

A.10.7 Penanganan Media

Objektif: Untuk mencegah tidak sah pengungkapan, modifikasi, penghapusan atau perusakan aset, dan gangguan untuk kegiatan bisnis.

A.10.8 Pertukaran Informasi

Objektif: Untuk menjaga keamanan informasi dan perangkat lunak dipertukarkan dalam suatu organisasi dan dengan entitas eksternal.

A.10.9 Jasa E-Commerce

Objektif: Untuk memastikan keamanan layanan electronic commerce, dan penggunaan aman mereka.

A.10.10 Pemantauan

Objektif: Untuk mendeteksi kegiatan pengolahan informasi yang tidak sah.

A.11 Access

A.11.1 Persyaratan Bisnis Untuk Kontrol Akses

Objektif: Untuk mengontrol akses ke informasi.

A.11.2 Pengguna Manajemen Akses

Objektif: Untuk memastikan akses pengguna yang berwenang dan untuk mencegah akses tidak sah ke sistem informasi.

A.11.3 Tanggung Jawab Pengguna

Objektif: Untuk mencegah akses pengguna yang tidak sah, dan kompromi atau pencurian fasilitas pengolahan informasi dan informasi.

 

A.11.4 Kontrol Akses Jaringan

Objektif: Untuk mencegah akses tidak sah ke layanan jaringan.

A.11.5 Operating Sistem Kontrol Akses

Objektif: Untuk mencegah akses tidak sah ke sistem operasi.

A.11.6 Aplikasi dan Kontrol Akses Informasi

Objektif: Untuk mencegah akses tidak sah ke informasi yang diadakan di sistem aplikasi.

A.11.7 Komputasi Mobile dan Teleworking

Objektif: Untuk memastikan keamanan informasi saat menggunakan komputer dan teleworking fasilitas mobile.

A.12 Sistem Informasi Akuisisi, Pengembangan, dan Pemeliharaan

A.12.1 Persyaratan Keamanan Sistem Informasi

Objektif: Untuk memastikan keamanan yang merupakan bagian integral dari sistem informasi.

A.12.2 Benar Pengolahan Dalam Aplikasi

Objektif: Untuk mencegah kesalahan, kehilangan, modifikasi yang tidak sah atau penyalahgunaan informasi dalam aplikasi.

A.12.3 Kriptografi

Objektif: Untuk melindungi kerahasiaan, keaslian atau integritas informasi dengan cara kriptografi.

            A.12.4 Keamanan Sistem File

Objektif: Untuk memastikan keamanan file sistem.

       A.12.5 Keamanan Dalam Proses Pengembangan dan Dukungan

Objektif: Untuk menjaga keamanan perangkat lunak sistem aplikasi dan informasi.

A.12.6 Manajemen Kerentanan Teknis

Objektif: Untuk mengurangi risiko akibat eksploitasi kerentanan teknis diterbitkan.

 

A.13 Informasi Manajemen Insiden Keamanan

A.13.1 Pelaporan Kejadian Keamanan Informasi dan Kelemahan

Objektif: Untuk memastikan kejadian keamanan informasi dan kelemahan yang terkait dengan sistem informasi dikomunikasikan dengan cara yang memungkinkan tindakan korektif tepat waktu yang akan diambil.

A.13.2 Manajemen Insiden Keamanan Informasi dan Perbaikan

Objektif: Untuk memastikan pendekatan yang konsisten dan efektif diterapkan pada pengelolaan insiden keamanan informasi.

A.14 Manajemen Kontinuitas Bisnis

A.14.1 Aspek Keamanan Informasi Manajemen Kelangsungan Bisnis

Objektif: Untuk mengatasi gangguan untuk kegiatan bisnis dan untuk melindungi proses bisnis kritis dari efek kegagalan utama dari sistem informasi atau bencana dan untuk memastikan dimulainya kembali tepat waktu mereka.

A.15 Kepatuhan

A.15.1 Kepatuhan Dengan Persyaratan Hukum

Objektif: Untuk menghindari pelanggaran hukum, kewajiban hukum, peraturan atau kontrak, dan persyaratan keamanan.

A.15.2 Kepatuhan Dengan Kebijakan Keamanan dan Standar, serta Kepatuhan Teknis

Objektif: Untuk memastikan kepatuhan sistem dengan kebijakan dan standar keamanan organisasi.

A.15.3 Sistem Informasi Pertimbangan Audit

Objektif: Untuk memaksimalkan efektivitas dan untuk meminimalkan gangguan ke / dari proses audit sistem informasi.

Tugas 2 : Audit Teknologi Sistem Informasi

BAGIAN 10

 

Menyeleksi, Menguji dan Mengaudit Aplikasi IT

Aplikasi Teknologi Informasi adalah alat yang membawa nilai untuk sistem komputer. Aplikasi TI ini dimulai dari yang relatif sederhana seperti sistem pembayaran hutang untuk membayar faktur ke vendor, sampai ke yang lebih kompleks, seperti sistem manajemen sumber daya perusahaan (ERM) yang mengatur beberapa aplikasi database yang saling terkait untuk mengendalikan hampir semua proses bisnis perusahaan.

Setiap aplikasi memiliki tiga komponen dasar yaitu :

  1. Input sistem
  2. Program yang digunakan untuk memproses
  3. Output sistem

Setiap aplikasi IT membutuhkan beberapa bentuk input, apakah itu data input secara manual dari voucher transaksi atau telah disediakan dari beberapa sistem otomatis.

Komponen Masukan Aplikasi

Yaitu :

  • Masukan-masukan (inputs) dari Pengumpulan Data atau Perangkat Input Lain
  • Masukan Aplikasi dari Sistem Otomatis Lainnya
  • Masukan File dan Database

Program-program Aplikasi

Aplikasi diproses melalui serangkaian program komputer atau sekumpulan mesin instruksi. Program komputer adalah seperangkat instruksi yang mencakup setiap detail dari suatu proses. Seorang programmer menulis instruksi terperinci untuk sistem komputer untuk diikuti.

  • Program Mainframe Tradisional dan Program Server-Klien

Mainframe, atau apa yang sering kita sebut komputer tipe lama digunakan secara luas untuk aplikasi bisnis sejak awal 1960-an. Aplikasi ini pertama kali diprogram dalam apa yang disebut bahasa mesin sebenarnya generasi pertama yang menggunakan biner 1s dan 0s

  • Arsitektur Program Komputer Modern

Pemrograman berorientasi objek adalag bahasa pemrograman dengan model seperti JAVA atau C ++, yang diatur di sekitar ‘objek’ ‘data daripada tindakan ‘‘ berbasis logika”. Konsep dan aturan yang digunakan dalam pemrograman berorientasi objek memberikan manfaat penting seperti berikut:

  • Konsep kelas data memungkinkan untuk mendefinisikan subclass dari objek data yang berbagi sebagian atau semua karakteristik kelas utama. Disebut warisan, properti ini OOP memaksa analisis data yang lebih menyeluruh, mengurangi waktu pengembangan, dan memastikan pengkodean yang lebih akurat
  • Karena kelas hanya mendefinisikan data yang perlu diperhatikan, ketika sebuah instance dari kelas itu (objek) dijalankan, program OOP tidak akan dapat mengakses data program lain secara tidak sengaja. Karakteristik data persembunyian ini memberikan keamanan sistem yang lebih besar dan menghindari korupsi data yang tidak diinginkan.
  • Definisi kelas dapat digunakan kembali baik oleh program yang awalnya dibuat dan juga oleh program berorientasi objek lainnya (karena alasan ini, dapat lebih mudah didistribusikan untuk digunakan dalam jaringan).
  • Konsep kelas data memungkinkan programmer untuk membuat tipe data baru yang belum didefinisikan dalam bahasa itu sendiri.

Perangkat Lunak yang Disediakan Vendor

Hal-hal yang perlu diperhatikan :

  1. Semua permintaan untuk aplikasi baru atau yang direvisi harus mengikuti standar IT dan terima otorisasi sebelumnya.
  2. Proses pengembangan aplikasi harus mencakup cukup meminta wawancara pengguna untuk mengembangkan pemahaman yang kuat tentang kebutuhan
  3. Semua proyek aplikasi baru harus menerima pernyataan persyaratan rinci bersama dengan analisis manfaat biaya formal.
  4. Rencana proyek harus disiapkan untuk semua pekerjaan pengembangan departemen TI serta untuk proyek pengembangan aplikasi individu.
  5. Perawatan harus diberikan untuk memastikan bahwa proyek pengembangan aplikasi memenuhi tujuan jangka panjang dari perusahaan.
  6. Tanggung jawab untuk pekerjaan pengembangan aplikasi harus diberikan dengan waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas pengembangan.
  7. Proses pengembangan aplikasi harus mencakup wawancara pengguna yang cukup untuk mendapatkan pemahaman penuh tentang persyaratan.
  8. Perhatian harus diberikan kepada kontrol internal, jejak audit, dan prosedur keberlanjutan.
  9. Perencanaan sumber daya dan kapasitas yang memadai harus dilakukan untuk memastikan bahwa semua perangkat keras dan perangkat lunak cukup ketika aplikasi ditempatkan dalam produksi.
  10. Perhatian yang cukup, termasuk prosedur uji, harus dibayar untuk cadangan, penyimpanan, dan perencanaan kontinuitas untuk aplikasi baru.
  11. Kontrol yang memadai harus dipasang untuk memberikan jaminan yang kuat mengenai integritas proses dan output data dari aplikasi.
  12. Aplikasi harus dibangun dengan kontrol yang memadai untuk identifikasi dan koreksi kesalahan pemrosesan.
  13. Semua data dan transaksi pemrosesan aplikasi harus mengandung jejak audit yang kuat.
  14. Dokumentasi yang memadai harus disiapkan pada tingkat teknis serta tingkat pengguna aplikasi.
  15. Data uji harus disiapkan mengikuti rencana uji yang telah ditentukan yang menguraikan hasil yang diharapkan dan memenuhi harapan pengguna.
  16. Ketika data diubah dari aplikasi yang ada, prosedur kontrol yang kuat harus ditetapkan selama proses konversi.
  17. Jika aplikasi penting, audit internal harus diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam audit pra-implementasi formal.
  18. Harus ada proses persetujuan dan persetujuan formal sebagai bagian dari penyelesaian proses pengembangan aplikasi.

 

Komponen Keluaran Aplikasi IT

Aplikasi saat ini menghasilkan jauh lebih sedikit (jika ada) laporan keluaran berbasis kertas; sebaliknya, hasil dilaporkan pada layar pengambilan data online. Dalam beberapa kasus, laporan online khusus mengontrol masalah sinyal dan kesalahan data; dalam hal lain, pengguna bertanggung jawab untuk memanggil layar yang sesuai untuk meninjau masalah. Sama seperti aplikasi IT modern yang dapat menerima masukan dari sekumpulan sistem masukan yang sangat terintegrasi, ini mungkin menjadi satu penghubung dalam rantai ke aplikasi lain. Sekali lagi, auditor TI harus mengembangkan pemahaman yang baik tentang aplikasi yang ditinjau serta semua input dan outputnya.

Memilih Aplikasi Untuk Tinjauan Audit Itu

            Berdasarkan pemahaman tingkat tinggi dari calon peninjau aplikasi potensial, pendekatan yang efektif adalah menilai semua aplikasi dalam skala dari 1 hingga 5 untuk setiap kategori sesuai dengan kriteria ini:

  • Apakah aplikasi mengandung kontrol atau fungsi perusahaan utama?
  • Berdasarkan tinjauan awal audit TI, apa keefektifan desain kontrol internal aplikasi?
  • Apakah aplikasi terutama didasarkan pada perangkat lunak yang dipasok oleh vendor yang dipasok, atau apakah ia dikembangkan sendiri?
  • Apakah aplikasi mendukung lebih dari satu proses bisnis yang penting?
  • Apakah aplikasi ini sudah sering diganti atau stabil dari waktu ke waktu?
  • Apa kerumitan pembuatan perubahan aplikasi (mis., Perubahan tabel dibandingkan perubahan kode program)?
  • Apa dampak keuangan dari kontrol aplikasi?
  • Apa efektivitas keseluruhan kontrol umum TI yang mendukung aplikasi (mis., Manajemen perubahan, keamanan logis, dan kontrol operasional)?

Setiap aplikasi yang dikaji harus diberi skor dengan angka yang lebih tinggi yang mewakili kekhawatiran kritikalitas pembuatan-audit. Misalnya, jika perubahan aplikasi memerlukan pembaruan kode program, skornya mungkin 5; perubahan melalui tabel eksternal mungkin menerima 1 atau 2. Skor ini, tentu saja, sangat sewenang-wenang, tetapi mereka memberikan ukuran untuk setiap aplikasi yang dipertimbangkan.

Meskipun skor kekritisan ‘‘ menang ’’ sebagai kandidat untuk peninjauan aplikasi, audit TI juga harus mempertimbangkan faktor lain saat memilih aplikasi TI untuk ditinjau. Karena aplikasi TI sering sangat penting untuk operasi perusahaan, auditor TI sering menerima permintaan khusus dari komite audit atau manajemen mereka untuk meninjau kontrol aplikasi tertentu. Beberapa faktor yang dapat semakin memengaruhi keputusan audit TI untuk memilih satu aplikasi spesifik atas yang lain dapat meliputi:

  • Permintaan manajemen.
  • Tinjauan pra-implementasi aplikasi baru.
  • Tinjauan aplikasi pasca implementasi.
  • Pertimbangan penilaian pengendalian internal.

Melakukan Review Kontrol Aplikasi: Langkah-Langkah Preliminary

Saat melakukan peninjauan, audit TI biasanya harus mencari elemen-elemen dokumentasi ini:

  • Metodologi pengembangan sistem (SDM) memulai dokumen
  • Spesifikasi desain fungsional.
  • Aplikasi dan program mengubah sejarah.
  • Panduan dokumentasi pengguna.

Melakukan Ulasan Walk-Through Aplikasi

Berdasarkan tinjauan dokumentasi aplikasi, audit TI telah menetapkan bahwa aplikasi menerima masukan dari sumber-sumber ini:

  • Komitmen pesanan pembelian dari kebutuhan material manufaktur merencanakan sistem pembelian
  • Pemberitahuan barang yang diterima dari sistem penerimaan material
  • Berbagai transaksi pembayaran terminal online untuk barang dan jasa tidak langsung yang tidak dicatat melalui sistem penerimaan material
  • Transaksi persetujuan pembayaran dimasukkan melalui layar input
  • Macam transaksi jurnal utang dimasukkan sebagai data batch

Langkah-langkah untuk menjalankan aplikasi secara langsung untuk contoh aplikasi hutang mencakup:

  • Jelaskan secara singkat aplikasi dalam kertas kerja audit.
  • Kembangkan deskripsi diagram blok dari aplikasi.
  • Pilih transaksi aplikasi utama.
  • Berjalan transaksi yang dipilih melalui proses sistem.
  • Ubah pemahaman sistem sesuai kebutuhan.

Mengembangkan Tujuan Pengendalian Aplikasi

Auditor TI mungkin telah menetapkan beberapa tujuan spesifik untuk ulasan ini:

  • Sistem hutang dagang harus memiliki kontrol internal yang memadai, sehingga semua tanda terima yang dicatat dari sistem penerima dicocokkan dengan benar ke file vendor sebelum persiapan pencairan.
  • Persyaratan vendor harus dihitung dengan benar dengan kontrol untuk menghilangkan kemungkinan pembayaran duplikat.
  • Kontrol harus dilakukan untuk mencegah atau setidaknya menandai pencairan yang tidak wajar atau tidak biasa.
  • Semua pencairan yang dihasilkan sistem harus dicatat pada file buku besar umum menggunakan nomor rekening yang benar dan kode deskriptif lainnya.

Menyelesaikan Audit Pengendalian Applikasi IT

Langkah selanjutnya adalah melengkapi dokumentasi aplikasi untuk keperluan audit. Audit TI seharusnya membuat catatan kerja di seluruh. Prosedur dokumentasi di sini sebagian besar merupakan rangkuman di mana kertas kerja menggambarkan pemahaman yang diperoleh dan menyertakan catatan untuk pekerjaan peninjauan tindak lanjut potensial.

Mengklarifikasi dan Menguji Tujuan Pengawasan Audit

Aplikasi modern saat ini dengan pembaruan online, integrasi yang erat dengan aplikasi lain, dan teknik pemrograman yang canggih semuanya digabungkan untuk membuat identifikasi prosedur pengujian menjadi sulit. Faktor-faktor lain termasuk:

  • Masukan ke aplikasi mungkin dihasilkan oleh sumber eksternal, seperti tautan Web, atau dari aplikasi lain di perusahaan mitra.
  • Kontrol sekali dilakukan oleh personil input data sekarang biasanya dibangun ke dalam program.
  • Perangkat input pemindaian optik modern dan dokumen output dengan kode bar multidimensi membuat inspeksi visual menjadi sulit.
  • File database dapat dibagikan dengan aplikasi lain, sehingga sulit untuk menentukan di mana perubahan atau transaksi berasal.
  • Aplikasi ini dapat menggunakan banyak antarmuka Web dan akan kelihatan tanpa kertas untuk audit TI.

Namun, karena ada begitu banyak jenis dan variasi aplikasi TI yang berbeda, auditor TI harus membuat pendekatan ulasan dengan pertimbangan yang diberikan untuk masalah ini:

  • Tes input dan output aplikasi
  • Uji pendekatan evaluasi transaksi
  • Teknik tinjauan aplikasi lainnya

 

Tinjauan Aplikasi Studi Kasus: Client-Server Sistem Budgeting

Audit TI mengembangkan tujuan peninjauan tingkat tinggi sebagai berikut:

  • Sistem penganggaran modal spreadsheet harus memiliki kontrol akuntansi internal yang baik yang konsisten dengan proses kontrol perusahaan lainnya.
  • Aplikasi harus benar-benar membuat keputusan penganggaran modal berdasarkan pada kedua parameter input ke sistem dan rumus makro yang diprogram.
  • Sistem harus menyediakan masukan yang akurat ke sistem penganggaran pusat atau perusahaan melalui server file lokal.
  • Kontrol keamanan dan integritas TI harus aman.
  • Sistem penganggaran modal harus mendorong efisiensi di dalam departemen perencanaan keuangan.

Tinjauan Dokumentasi Sistem Penganggaran Modal

Langkah pertama audit TI harus meninjau dokumentasi yang tersedia untuk aplikasi contoh ini. Karena contoh ini dibuat di sekitar produk perangkat lunak desktop komersial, audit TI mungkin berharap menemukan atau harus meminta:

  • Dokumentasi untuk paket perangkat lunak penganggaran modal, termasuk deskripsi prosedur makro spreadsheet, dan rumus
  • Prosedur untuk mengunggah data anggaran modal ke aplikasi penganggaran sistem pusat melalui file server jaringan serta prosedur untuk menerima data input ke fungsi IT mainframe
  • Prosedur untuk memastikan integritas data penduduk pada file server

Uji Aplikasi Penyesuaian

Beberapa tes kontrol aplikasi termasuk:

  • Reperformance dari perhitungan
  • Perbandingan transaksi.
  • Persetujuan transaksi yang tepat.

Tujuan dan Hambatan Audit Preimplementasi

Namun, auditor TI menghadapi empat kendala utama ketika meninjau aplikasi baru yang sedang dikembangkan:

  1. Sikap “Mereka vs kami”
  2. Masalah peran auditor TI. Peran auditor TI harus dipahami dengan jelas oleh semua pihak dan dapat didefinisikan sebagai:
  • Anggota tambahan dari tim implementasi.
  • Konsultan khusus.
  • Pakar kontrol internal
  • Seorang penghuni dari ‘‘kursi ekstra.’ ’
  • Kebutuhan kesadaran yang canggih.
  • Banyak dan beragam kandidat preimplementation.

Masalah Tinjauan Pra-Pelaksanaan

Untuk mengatasi kesulitan ini, audit TI harus mempertimbangkan masalah ini:

  • Pilih aplikasi yang tepat untuk ditinjau.
  • Tentukan peran auditor IT yang tepat.
  • Tinjau tujuan bisa sulit untuk ditentukan.

Persyaratan Aplikasi Definisi Tujuan

Jika memungkinkan, audit TI harus terlibat dalam tinjauan pra-implementasi pada awal fase pengembangan. Di sini, audit TI harus meninjau studi persyaratan rinci untuk menentukan status kontrol keseluruhan dari aplikasi baru. Jika IT mengaudit dapat mengidentifikasi masalah kontrol selama fase pengembangan aplikasi, maka akan relatif mudah untuk desainer sistem untuk mengatasi dan memperbaikinya.

Rinci Desain dan Program: Tujuan Pengembangan

Menetapkan tujuan desain terperinci biasanya merupakan fase terpanjang dari setiap proses pengembangan aplikasi baru. Audit TI mungkin ingin menjadwalkan beberapa ulasan selama fase ini. Setiap tinjauan berkala harus fokus pada area spesifik dari proyek pengembangan aplikasi baru, tetapi tujuan keseluruhannya harus menjawab beberapa pertanyaan ini:

  • Apakah desain ini secara utuh sesuai dengan tujuan dari definisi persyaratan umum?
  • Apakah pengguna memahami kontrol dan tujuan dari aplikasi baru yang sedang dikembangkan?

 

  • Apakah pertimbangan yang tepat telah diberikan pada kontrol dan keamanan aplikasi?
  • Apakah aplikasi sedang dikembangkan sesuai dengan standar pengembangan sistem departemen TI sendiri?
  • Apakah proses pengembangan aplikasi didukung oleh rencana proyek yang terorganisasi dengan baik, serupa dengan perencanaan audit TI yang dibahas pada Bab 5?
  • Sudahkah rekomendasi audit sebelumnya dimasukkan ke dalam desain terperinci?

Pengujian Aplikasi dan Tujuan Implementasi

Fase ini meliputi pengujian aplikasi baru dan penyelesaian dokumentasi, pelatihan pengguna, dan konversi file data. Audit TI sering mampu mengevaluasi apakah kontrol sistem tampak berfungsi sebagaimana yang diharapkan dan akan ingin menguji modul audit apa pun yang dimasukkan ke dalam aplikasi

Tujuan dan Laporan Peninjauan Ulang Pelaksanaan Post

Meskipun aplikasi baru tidak lagi dalam pengembangan, fase pasca implementasi audit pra-implementasi sering masih penting. Tinjauan pasca-implementasi harus dilakukan segera setelah aplikasi baru telah dilaksanakan dan memiliki waktu untuk menyelesaikannya. Dengan kata lain, audit TI harus melakukan peninjauan setelah pengguna memiliki kesempatan untuk memahami aplikasi dan sistem informasi memiliki waktu untuk menyelesaikan masalah implementasi akhir atau kesalahan

Pentingnya Peninjauan Kontrol Aplikasi TI

Seorang auditor TI harus menempatkan penekanan besar pada meninjau aplikasi IT yang mendukung ketika melakukan tinjauan di area lain dari perusahaan. Meskipun prosedur pengendalian TI umum atau interdependen yang baik dapat diterapkan, kontrol aplikasi individual mungkin tidak semuanya kuat. Tinjauan tersebut akan memberikan jaminan kepada manajemen umum bahwa aplikasi beroperasi dengan benar dan manajemen TI bahwa desain dan standar kontrol mereka sedang diikuti, yang memungkinkan mereka untuk lebih mengandalkan hasil keluaran dari aplikasi tersebut. Pemahaman tentang tinjauan kontrol aplikasi adalah persyaratan keterampilan utama untuk semua auditor IT

Tugas 2: Inovasi SI dan Teknologi Informasi Modern

2.1. Sebutkan dan jelaskan layanan strategis apa agar Sistem Informasi modern dapat berkembang cepat
Analisis lingkungan bisnis internal, yang mencakup aspek-aspek strategi bisnis saat ini, sasaran, sumber daya, proses, serta budaya nilai-nilai bisnis organisasi.
Analisis lingkungan bisnis eksternal, yang mencakup aspek-aspek ekonomi, industri, dan iklim bersaing perusahaan.
Analisis lingkungan SI/TI internal, yang mencakup kondisi SI/TI organisasi dari perspektif bisnis saat ini, bagaimana kematangannya (maturity), bagaimana kontribusi terhadap bisnis, keterampilan sumber daya manusia, sumber daya dan infrastruktur teknologi, termasuk juga bagaimana portofolio dari SI/TI yang ada saat ini.
Analisis lingkungan SI/TI eksternal, yang mencakup tren teknologi dan peluang pemanfaatannya, serta penggunaan SI/TI oleh kompetitor, pelanggan dan pemasok.

2.2. Sebutkan dan jelaskan macam-macam inovasi Sistem Informasi modern
Inovasi Sistem Informasi dan Teknologi Informasi Modern di bidang Keuangan, seorang nasabah dapat menarik uang dimanapun dia berada selama disana masih ada layanan ATM dari bank tersebut, atau seseorang dapat tanpa perlu bertemu dengan orang yang di tuju dengan mentransfer uang tersebut ke rekening yang lain hanya dalam hitungan menit saja, semua transaksi dapat dilakukan dengan mudah dan cepat.
Inovasi Sistem Informasi dan Teknologi Informasi Modern di bidang Pendidikan. Salah satu aplikasi e-learning yang berbasis open source adalah Moodle. Moodle adalah paket software yang diproduksi untuk kegiatan belajar berbasis internet dan website. Moodle pertama kali dikembangkan oleh Martin Dogiamas yang mempertahankan moodle sebagai paket software e-learning yang free (gratis) dan open source (terbuka source programnya). Moodle terus mengembangkan rancangan sistem dan desain user interface setiap minggunya (up to date). Oleh karena itu Moodle tersedia dan dapat digunakan secara bebas sebagai produk open source. Sistem e-learning berbasis open source (moodle) yang digunakan diharapkan dapat meningkatkan efsiensi dan efektivitas kinerja pengajar dan pemahaman pembelajar terhadap materi pembelajaran. Istilah moodle singkatan dari Modular Object Oriented Dynamic Learning Enviroment yang berarti tempat belajar dinamis dengan menggunakan model berorientasi objek atau merupakan paket lingkungan pendidikan berbasis web yang dinamis dan dikembangkan dengan konsep berorientasi objek.

2.3. Sebutkan dan jelaskan pengaruh inovasi Sistem Informasi modern terhadap perubahan sosial budaya dan pendidikan

Positif
1. Sistem Belajar Mengajar yang Tidak Selalu Tatap Muka

Dampak positif pertama di bidang pendidikan yang disebabkan oleh inovasi Sistem Informasi modern adalah sistem pembelajaran secara online atau biasa disebut e-learning. Sistem pembelajaran ini tidak mengharuskan pendidik dan peserta didik untuk saling bertatap muka secara langsung. Tentu hal ini bisa menjadi opsi bagi peserta didik yang mempunyai kesibukan yang tinggi, karena sistem e-learning biasanya dapat diakses kapan saja dan bersifat fleksibel.

Selain itu, sistem pembelajaran ini bisa menghemat biaya transportasi baik bagi pendidik dan peserta didik, berbeda dengan sistem pembelajaran konvensional yang membutuhkan biaya transportasi sebagai penunjang pendidikan. Komputer atau laptop dan jaringan internet merupakan elemen penting yang dibutuhkan untuk mengakses sistem pembelajaran online ini, oleh karena itu sistem pembelajaran ini masih terbatas penggunaannya.

2. Kemudahan dalam Mengakses Informasi Pendidikan

Dampak positif selanjutnya dalam bidang pendidikan adalah mudahnya mengakses informasi pendidikan. Internet memberi kemudahan bagi pendidik dan peserta didik untuk mengakses materi belajar, katakanlah hadirnya situs-situs yang menyediakan buku dalam bentuk digital yang dapat diunduh dan dijadikan referensi dalam proses belajar mengajar. Buku-buku elektronik atau e-book ini bisa diunduh dan langsung dibaca tanpa harus mencetaknya terlebih dahulu, sehingga bisa menghemat pemakaian kertas.

3. Meningkatnya Kualitas Pendidik

Kemudahan dalam mengakses informasi pendidikan secara langsung bisa meningkatkan kualitas dari tenaga pendidik. Kemudahan di era globalisasi ini seyogyanya harus dimanfaatkan secara maksimal oleh guru, karena saat ini guru bisa leluasa melihat trend pembelajaran di dunia, serta mencari referensi-referensi dari negara termaju di dunia yang berguna dalam proses belajar mengajar. Dengan memaksimalkan teknologi dan informasi di era globalisasi, kualitas pengajar akan terus meningkat.

4. Meningkatnya Kualitas Pendidikan

Akibat dari pesatnya arus globalisasi, metode pembelajaran yang awalnya bersifat sederhana kini berubah menjadi metode pendidikan berbasis teknologi. Kemajuan teknologi yang semakin canggih ternyata memberi dampak positif bagi peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh, pada zaman dahulu seorang guru harus menulis di papan tulis dengan menggunakan kapur. Kini dengan adanya teknologi, guru bisa memanfaatkan komputer dan internet untuk menggabungkan tulisan, gambar, suara, video bahkan film untuk mempermudah dalam penyampaian ilmu, termasuk dalam pengajaran ilmu klimatologi.

5. Pertukaran Pelajar

Pertukaran pelajar di dunia pendidikan sering terjadi di era globalisasi. Pelajar dalam sebuah negara bisa memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan di luar negeri atau sebaliknya. Siswa yang berkesempatan belajar ke negara dengan pendidikan terbaik dituntut untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan baru dan bisa mengetahui serta mengerti budaya di luar negeri, sehingga siswa diharapkan bisa memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas.

6. Mendorong Siswa untuk Menciptakan Karya Inovatif

Perkembangan IPTEK pada era globalisasi bagi sebuah instansi pendidikan seyogyanya bisa dimanfaatkan untuk mendorong siswa-siswanya agar bisa menciptakan suatu karya yang inovatif. Sistem pembelajaran tradisional yang hanya bersifat satu arah agaknya dapat menghambat perkembangan siswa, oleh karena itu diperlukan metode pembelajaran baru seperti metode student oriented yang nantinya bisa merangsang daya pikir siswa dan juga meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar.

Negatif :
1. Menurunnya Kualitas Moral Siswa

Dampak buruk dari adanya inovasi Sistem Informasi modern bagi dunia pendidikan adalah menurunnya kualitas moral para siswa. Informasi di internet yang dapat diakses secara leluasa sangat rawan dalam mempengaruhi moral siswa, sebagai contoh situs-situs yang berbau pornografi, serta adanya foto dan video yang tidak pantas sangat mudah diakses dan merajalela di media sosial tanpa adanya filterisasi. Adanya konten-konten yang tidak baik tersebut bisa mempengaruhi perilaku siswa baik secara langsung maupun tidak langsung. Maka dari itu, agar moral siswa tidak semakin rusak diperlukan kontrol dan perhatian dari orang tua siswa, guru dan negara.

2. Meningkatnya Kesenjangan Sosial

Dampak buruk selanjutnya adalah meningkatnya kesenjangan sosial di masyarakat. Metode pendidikan berbasis teknologi bisa menjadi kesempatan bagi sebuah negara untuk meningkatkan pendidikannya, namun nyatanya kemajuan teknologi dan informasi di dunia pendidikan perlu dibarengi dengan kesiapan mental dan modal yang tentunya tidak sedikit. Di beberapa negara di dunia khususnya negara berkembang, perkembangan teknologi hanya bisa dinikmati sekolah-sekolah di wilayah perkotaan, sementara sekolah yang berada di wilayah pedalaman terus tertinggal karena sulitnya akses dan kurangnya modal. Akibatnya kesenjangan sosial di bidang pendidikan tidak dapat dibendung lagi.

3. Tergerusnya Kebudayaan Lokal

Arus globalisasi yang sangat pesat juga bisa menggerus kebudayaan lokal di sebuah negara. Perkembangan teknologi memungkinkan kontak budaya terjadi melalui media massa, akibatnya pengaruh luar negeri dapat masuk dengan leluasa ke sebuah negara. Pengaruh globalisasi dalam bidang pendidikan yang dikuasai dan digerakkan oleh negara-negara maju bisa menjadi masalah bagi negara-negara berkembang, tidak terkecuali bagi Indonesia yang memiliki beberapa pulau yang masuk dalam kategori pulau terbesar di dunia.

Akibat dari arus globalisasi ini, budaya di Indonesia dikhawatirkan akan hilang karena pudarnya rasa nasionalisme, berkurangnya sifat kekeluargaan, serta gaya hidup masyarakat yang kebarat-baratan. Sebagai contoh dapat kita lihat dari gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan sehari-hari, remaja-remaja di Indonesia banyak yang berdandan meniru selebritis Korea maupun Amerika. Remaja ini mengenakan pakaian yang tidak pantas dan tidak sesuai dengan kebudayaan yang ada di Indonesia.

4. Munculnya Tradisi Serba Cepat dan Instan

Dampak buruk inovasi Sistem Informasi modern selanjutnya dalam dunia pendidikan adalah munculnya tradisi serba cepat dan instan. Penyikapan arus globalisasi yang tidak tepat bisa menjadikan pendidikan kehilangan orientasi idealnya yaitu proses pembelajaran. Orientasi pendidikan yang awalnya menekankan pada proses telah berubah ke ranah pencapain hasil. Akibatnya banyak orang yang hanya menekankan pada hasil akhir ketika menempuh sebuah pendidikan, bahkan kini makin marak adanya jual beli ijazah palsu karena banyak orang yang ingin cepat mendapatkan keuntungan secara cepat dan instan. Tentu hal ini bisa menjadi masalah yang besar dan merugikan negara jika tidak segera ditangani dengan cepat. Globalisasi di dunia pendidikan perlu disikapi dengan bijak agar nantinya tidak salah arah.

5. Komersialisasi Pendidikan

Dampak buruk dari inovasi Sistem Informasi modern selanjutnya adalah terancamnya kemurnian tujuan dalam pendidikan akibat dari komersialisasi pendidikan. Saat ini banyak instansi pendidikan yang didirikan dengan tujuan utama sebagai tempat bisnis. Sebuah lembaga pendidikan bisa disebut sebagai komersialisasi pendidikan jika mementingkan biaya pendaftaran dan uang gedung, tetapi kewajiban-kewajiban pendidikannya sering diabaikan.

Komersialisasi pada dunia pendidikan terjadi ketika sebuah instansi pendidikan menetapkan biaya pendidikan yang tidak sebanding dengan pelayanan pendidikannya, sehingga instansi tersebut hanya mengedepankan laba yang diperoleh. Bahkan ada pula sebuah lembaga pendidikan yang melaksanakan praktik pendidikan hanya untuk mendapatkan gelar akademik tanpa melalui proses pendidikan yang ideal, akibatnya biaya pendidikan di lembaga semacam ini sangatlah tinggi.

Audit Teknologi Sistem Informasi : Lembaga – Lembaga Audit Sistem Informasi di Indonesia

Ikatan Audit Sistem Informasi Indonesia (IASII)

Terbentuknya TPP-IASII

Menyadari pesatnya pemanfaatan Teknologi Informasi dalam wujud Sistem Informasi di Indonesia, maka makin disadari juga pentingnya pelaksanaan audit atas penyelenggaraan Sistem Informasi untuk meminimumkan peluang penyimpangan yang sangat besar terjadi.Seiring dengan hal tersebut maka peranan profesi Auditor Sistem Informasi di Indonesia perlu ditingkatkan. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah pengembangan dan pembinaan berkesinambungan agar jumlah maupun mutu para Auditor Sistem Informasi semakin meningkat, sehingga tercipta posisi profesi tersebut yang tangguh dan berdaya saing, yang memungkinkan kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Atas inisiatif beberapa praktisi dan akademisi dalam bidang audit sistem informasi, maka dibentuklah Tim Persiapan Pembentukan Ikatan Auditor Sistem Informasi Indonesia (TPP-IASII). TPP-IASII merupakan tim sementara yang bertugas untuk mengajak dan memotivasi para akuntan publik, auditor pemerintah, analis sistem, system administrator auditor internal perusahaan, dosen, mahasiswa dan masyarakat umum lainnya yang menaruh minat pada pengembangan audit dan pengendalian sistem informasi untuk bergabung membentuk Ikatan ini.
TPP-IASII beranggotakan individu-individu sebagai berikut:
1. DR. Ichjar Musa, SE, MM, CISA
2. Surdiyanto S.
3. Hari S. Noegroho
4. DR. Yogiyanto Ak
5. Novis Pramantayabudi, CISA, CIA
6. Arif Gaffar, CISA
7. Chandra Yulistia, Ak, CISA
8. Rudy M. Harahap, CISA
9. Daryanto
10. Teuku Radja Sjahnan, CISA

Berdirinya IASII

Pada tanggal 20 Mei 2004, IASII didirikan di Jakarta. Di dalam perjalanannya, IASII akan senantiasa melakukan kerja sama yang erat dengan asosiasi profesi lain yang terkait seperti Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Information System Audit and Control Association-Chapter Indonesia, Institute of Internal Auditor, Forum Komunikasi Satuan Pengawas Intern dan asosiasi profesi dalam bidang TI lainnya Diharapkan bahwa dengan dibentuknya Ikatan ini, profesi auditor sistem informasi akan dapat melayani kepentingan para stakeholders di Indonesia dengan sebaik-baiknya.

Kegiatan IASII dalam berbagai bidang, meliputi :

1. Penetapan standar profesi auditor sistem informasi nasional
2. Pemberian sertifikasi dalam bidang kompetensi audit sistem informasi nasional
3. Peningkatan kemampuan anggota dalam bidang audit sistem informasi, baik itu sebagai dukungan atas audit laporan keuangan maupun dalam bidang audit kendali umum dan kendali aplikasi sistem informasi
4. Peningkatan awareness kalangan universitas umumnya, dan jurusan akuntansi serta teknologi dan manajemen informatika khususnya, mengenai pentingnya audit dan pengendalian sistem informasi

Kode Etik IASII

– Insan audit sistem informasi Indonesia adalah warga negara Indonesia yang berjiwa Pancasila dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
– Insan audit sistem informasi Indonesia mengutamakan keluhuran budi, integritas yang terpuji, serta menjunjung tinggi prinsip-prinsip tata-kelola yang baik.
– Insan audit sistem informasi Indonesia senantiasa memelihara kebersamaan sesama anggota komunitas, mendahulukan kepentingan organisasi daripada kepentingan pribadi anggota dan atau kelompok anggota.
– Insan audit sistem informasi Indonesia senantiasa berupaya sungguh-sungguh dalam meningkatkan pemahaman, menambah pengetahuan, dan membagi pengalaman dalam bidang pemeriksaan, pengendalian dan pengamanan sistem informasi.
– Insan audit sistem informasi Indonesia senantiasa berupaya membangun reputasi organisasi dan anggota secara bermartabat dan bertanggungjawab.
– Insan audit sistem informasi Indonesia senantiasa mengutamakan kemandirian dan menghindari ketergantungan kepada pihak-pihak di luar organisasi yang langsung maupun tidak langsung.
– Insan audit sistem informasi Indonesiadalam menyampaikan pendapat, pemikiran dan pertimbangannya senantiasa menggunakan pendekatan yang santun, demokratis dan berbaik-sangka.
Standard Audit Sistem Informasi (SASI) IASII
Standar Audit Sistem Informasi (SASI) IASII diresmikan oleh Rapat Anggota IASII Tahun 2006 pada tanggal 25 Februari 2006 pukul 11.00 WIB bertempat di Jakarta. SASI IASII berlaku bagi seluruh Anggota IASII (sesuai AD/ART IASII) yang melaksanakan kegiatan Audit Sistem Informasi.Standar ini mulai berlaku efektif sejak tanggal 01 Januari 2007 dan dapat diterapkan sebelum tanggal tersebut.
S-1 Penugasan Audit
S-1.1 Tanggung Jawab, Wewenang dan Akuntabilitas
Tanggung jawab, wewenang, dan akuntabilitas dari auditor sistem informasi harus dinyatakan dengan jelas secara formal dan tertulis dalam piagam atau surat tugas audit sistem informasi serta disetujui secara bersama oleh auditor sistem informasi dan pemberi tugas.
S-2 Independensi & Obyektifitas
S-2.1 Independensi
Dalam berbagai hal yang berkaitan dengan audit sistem informasi, auditor sistem informasi harus menjaga independensinya, baik secara faktual maupun penampilan, dari organisasi atau hal yang diaudit.
S-2.2 Obyektifitas
Auditor sistem informasi harus menjaga obyektifitasnya dalam merencanakan, melaksanakan dan melaporkan audit sistem informasi.
S-3 Profesionalisme & Kompetensi
S-3.1 Profesionalisme
Auditor sistem informasi harus memenuhi berbagai standar audit yang berlaku serta menerapkan kecermatan dan ketrampilan profesionalnya dalam merencanakan, melaksanakan, dan melaporkan audit sistem informasi.
S-3.2 Kompetensi
Auditor sistem informasi, secara kolektif, harus memiliki atau memperoleh pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan audit sistem informasi.
S-3.3 Pendidikan Profesi Berkelanjutan
Auditor sistem informasi harus meningkatkan pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan audit sistem informasi melalui pendidikan profesi berkelanjutan.
S-4 Perencanaan
S-4.1 Perencanaan Audit
Auditor sistem informasi harus merencanakan audit sistem informasi dengan baik agar dapat mencapai tujuan audit serta memenuhi standar audit yang berlaku.
S-5 Pelaksanaan
S-5.1 Pengawasan
Staf audit sistem informasi harus disupervisi dengan baik untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa tujuan audit sistem informasi dapat tercapai dan standar audit yang berlaku dapat dipenuhi.
S-5.2 Bukti-bukti Audit
Dalam melaksanakan audit sistem informasi, auditor sistem informasi harus memperoleh bukti-bukti audit yang cukup, dapat diandalkan dan bermanfaat untuk mencapai tujuan audit sistem informasi secara efektif. Temuan dan kesimpulan audit sistem informasi harus didukung oleh analisis dan interpretasi yang memadai atas bukti-bukti audit tersebut.
S-5.3 Kertas Kerja Audit
Dalam melaksanakan audit sistem informasi, auditor sistem informasi harus mendokumentasikan secara sistematis seluruh bukti-bukti audit yang diperoleh serta analisis yang dilakukannya.
S-6 Pelaporan
S-6.1 Laporan Audit
Setelah menyelesaikan pelaksanaan audit sistem informasi, auditor sistem informasi harus memberikan suatu laporan audit sistem informasi dalam bentuk yang memadai kepada pihak-pihak yang berhak menerima. Laporan audit sistem informasi harus menyatakan lingkup, tujuan, sifat penugasan, temuan, kesimpulan, rekomendasi, indentitas organisasi, penerima dan batasan distribusi laporan, serta batasan atau pengecualian yang berkaitan dengan pelaksanaan audit sistem informasi.
S-7 Tindak Lanjut
S-7.1 Pemantauan Tindak Lanjut
Auditor sistem informasi harus meminta dan mengevaluasi informasi yang dipandang perlu sehubungan dengan temuan, kesimpulan dan rekomendasi audit yang terkait dari audit sebelumnya untuk menentukan apakah tindak lanjut yang layak telah dilaksanakan dengan tepat waktu.

Source :

Audit Teknologi Sistem Informasi : Analisis Resiko

Analisis Resiko

Analisis Risiko adalah suatu metode analisis yang meliputi faktor penilaian, karakterisasi, komunikasi, manajemen dan kebijakan yang berkaitan denganrisiko tersebut. Manajemen Risiko adalah usaha yang secara rasional ditujukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kerugian dari risiko yang dihadapi.

Cara-cara untuk mengatasi resiko ialah:

  1. Avoid Risk , dengan melakukan terminasi resiko, awalnya ketika resiko sudah di ukur, maka kemudian dilakukan pengaturan aktifitas yang akan memicu resiko tersebut. Misalnya saja penggunaan laptop karyawan bank yang disediakan semua dari pihak bank dimana mereka bekerja untuk menghindari adalnya malware, infeksi virus, tojan ataupun pencurian data data mereka.
  2. Reduce Risk  dengan meminimalkan kemungkinan terjadinya resiko, caranya adalah dengan menambahkan kontrol tambahan, contohnya adalah pemasangan perangkat firewall untuk mengurangi resiko adanya penyerangan baik dari attacker maupun dari virus.
  3. Accept Risk adalah menerima resiko yang ada dengan mempersiapkan management penanganannya. Contohnya ialah dengan mempersiapkan DRC ( Disaster Recovery Center) untuk menghindari dari adanya gempa bumi di server utama.
  4. Transfer Risk adalah meletakkan resiko pada pihak ketiga, Contohnya ialah dengan memakai jasa asuransi kebakaran.

Sebelum berlanjut cara menerapakan metode analisis, terdapat hal yang harus diperhatikan diantaranya yaitu :

  1. Menentukan ruang lingkup (scope statement).
  2. Menetapkan aset (asset pricing).
  3. Mengeidentifikasi Risks and Threats.
  4. Menentukan koefisien dampak. Meneliti sejauh mana sebuah aset dikenali sebagai hal yang rentan terhadap sesuatu, serta perbandingannya dengan aset yang justru kebal sama sekali.
  5. Single loss expectancy atau ekspetasi kerugian tunggal. Aset-aset yang berbeda akan menanggapi secara berbedap pula ancaman-ancaman yang diketahui.
  6. Group evaluation atau evaluasi kelompok, yaitu langkah lanjutan yang melibatkan sebuah kelompok pertemuan yang terdiri dari para pemangku kepentingan terhadap sistem yang dianalisis (diteliti).
  7. Melakukan kalkulasi (penghitungan) dan analisis. Across asset, yaitu analisis yang bertujuan untuk menunjukkan aset-aset tertentu yang perlu mendapat perlindungan paling utama. Across risk, yaitu analisis yang bertujuan untuk menunjukkan ancaman apa dan bagaimana yang paling harus dijaga.
  8. Controls atau pengendalian, yaitu segala hal yang kemudian diterapkan untuk mencegah, mendeteksi, dan meredakan ancaman serta memperbaiki sistem.
  9. Melakukan analisis terhadap pengendalian. Ada dua metode yang dapat dilakukan dalam menganalisis aksi kontrol ini, yaitu cost and benefit ratio dan risk or control.

Metodologi Analisis Resiko Eugene Tucker
Eugene Tucker, dalam Other Risk Analysis Methodologies, menjelaskan bahwa terdapat banyak metode analisis resiko. Tucker menjabarkan beberapa metodologi analisis resiko yang salah satunya adalah Operational Risk Management (ORM) yang bisa diterapkan dalam menganalisis risiko bisnis.

Operational Risk Management (ORM) merupakan sebuah sistem manajemen resiko berbasis teknis yang umumnya digunakan oleh lembaga Administrasi Penerbangan dan militer. Perangkat analisis ini dirancang untuk mengenali manfaat dan resiko cara kerja untuk menentukan arah terbaik dari satu tindakan yang diambil dalam situasi tertentu. Resiko yang diteliti itu dapat merupakan akibat dari proses yang tidak memadai atau gagal, dari orang, dari sistemnya sendiri, maupun dari kejadian-kejadian di luar sistem (bersifat eksternal). Terdapat enam langkah dari ORM, yaitu (1) mengenali bahaya; (2) menakar atau menilai resiko yang ada; (3) menganalisa ukuran pengendalian resiko; (4) membuat putusan pengendalian; (5) menerapkan pengendalian resiko; dan (6) melakukan pengawasan dan peninjauan.

Source :

Audit Teknologi Sistem Informasi: Jenis-jenis Audit

Audit atau pemeriksaan dalam arti luas bermakna evaluasi terhadap suatu organisasi, sistem, proses, atau produk. Audit dilaksanakan oleh pihak yang kompeten, objektif, dan tidak memihak, yang disebut auditor. Tujuan diadakannya audit adalah untuk melakukan verifikasi bahwa subjek dari audit telah diselesaikan atau berjalan sesuai dengan standar, regulasi, dan praktik yang telah disetujui dan diterima.

Dalam dunia bisnis, kita juga mengenal adanya istilah audit laporan keuangan yang biasanya dilakukan oleh akuntan publik untuk menilai seberapa wajar atau seberapa layak penyajian laporan keuangan ini dibuat oleh perusahaan dengan mengacu pada prinsip akuntansi yang berlaku secara umum. Jenis-jenis Audit adalah sebagai berikut :

  • Audit Internal :

Menurut Sawyers (2005:10) Audit Internal adalah sebuah penilaian yang sistematis dan objektif yang dilakukan auditor internal terhadap operasi dan kontrol yang berbeda-beda dalam organisasi untuk menentukan:

1. Informasi keuangan dan operasi telah akurat dan dapat diandalkan
 
2. Risiko yang dihadapi perusahaan telah diidentifikasi dan diminimalisasi
 
3. Peraturan eksternal serta kebijakan dan prosedur internal yang
    bisa diterimatelah diikuti
 
4. Kriteria operasi yang memuaskan telah dipenuhi
 
5. Sumber daya telah digunakan secara efisien dan ekonomis
 
6. Tujuan organisasi telah dicapai secara efektif  –  semua dilakukan dengan tujuan

    untuk dikonsultasikan dengan manajemen dan membantu anggota organisasi      dalam menjalankan tanggung jawabnya secara efektif

  • Audit Sistem Informasi :

Audit sistem informasi adalah proses pengumpulan dan penilaian bukti – bukti untuk menentukan apakah sistem komputer dapat mengamankan aset, memelihara integritas data, dapat mendorong pencapaian tujuan organisasi secara efektif dan menggunakan sumberdaya secara efisien

  • Audit Kecurangan (Fraud) :

Fraud auditing atau audit kecurangan adalah upaya untuk mendeteksi dan mencegah kecurangan dalam transaksi-transaksi komersial. Untuk dapat melakukan audit kecurangan terhadap pembukuan dan transaksi komersial memerlukan gabungan dua keterampilan, yaitu sebagai auditor yang terlatih dan kriminal investigator.

Apabila suatu kesalahan adalah disengaja, maka kesalahan tersebut merupakan kecurangan (fraudulent). Istilah “Irregulary” merupakan kesalahan penyajian keuangan yang disengaja atas informasi keuangan. Auditor terutama tertarik pada pencegahan, deteksi, dan pengungkapan kesalahan-kesalahan karena alasan berikut ;

a. Eksistensi kesalahan dapat menunjukan bagi auditor bahwa catatan akuntansi dari kliennya tidak dapat dipercaya dan dengan demikian tidak memadai sebagai suatu dasar untuk penyusunan laporan keuangan. Adanya sejumlah besar kesalahan dapat mengakibatkan auditor menyimpulakan bahwa catatan akuntansi yang tepat tidak dilakukan.

b. Apabila auditor ingin mempercayai pengendalian intern, ia harus memastikan dan menilai pengendalian tersebut dan melakukan pengujian ketaatan atas operasi. Apabila pengujian ketaatan menunjukan sejumlah besar kesalahan, maka auditor tidak dapat mempercayai pengendalian intern.

c. Apabila kesalahan cukup material, kesalahan tersebut dapat mempengaruhi kebenaran (truth) dan kewajaran (fairness) laporan tersebut.

Istilah kecurangan digunakan untuk berbagai perbuatan dosa yang termasuk :
a. Kecurangan yang melibatkan perlakuan penipuan untuk mendapatkan keuntungan keuangan yang tidak adil atau ilegal.
b. Pernyataan salah yang disengaja dalam penghilangan suatu jumlah atau pengungkapan dati catatan akuntansi atau laporan keuangan suatu entitas.
c. Pencurian (theft), apakah disertai dengan penyataan yang salah dari catatan akuntansi atau laporan keuangan atau tidak.

Tindakan ilegal merupakan istilah yang lain lagi. Tindakan ilegal adalah setiap tindakan yang berlawanan dengan hukum. Tindakan ilegal dapat dilakukan secara sengaja atau dengan kurang hati-hati. The Professional Standards and Responsibilities Committee dari The Institute of Internal Auditors dalam Statement of Internal Auditing Standard No.3- Mei 1985 Mendefinisikan kecurangan sebagai :
“ Kecuranagan yang di desain untuk memberi manfaat kepada organisasi umumnya menghasilkan manfaat tersebut dengan mengeksploitasi suatu keuntungan yang tidak wajar atau tidak jujur, yang mungkin dapat menipu pihak luar. Pelaku dari kecurangan demikian biasanya mendapat manfaat secara tidak langsung, karena manfaat pribadi biaya diakru (accrues) bertambah, sedangkan organisasi ditolong oleh tindakan yang bersangkutan. Beberapa contoh adalah :
a. Penjualan atau penjamin aktiva yang fiktif atau salah disajikan
b. Pembayaran yang tidak tepat seperti kontribusi politik yang illegal penyogokan (bribes), pembayaran kembali (kickbacks), dan pembayaran kepada pejabat pemerintah, pelanggan atau pemasok.
c. Penyajian atau penilaian transaksi-transaksi, aktiva, hutang atau pendapatan yang tidak tepat dan dilakuka secara sengaja.
d. Penetapan harga transfer yang tidak tepat dan dilakukan secara sengaja. Dengan sengaja menstrukturkan teknik penetapan harga secara tidak tepat, manajemen dengan pasti memperbaiki hasil operasi dari suatu organisasi yang tercangkup dengan transaksi menjadi kerugian dari organisasi yang lain.
e. Transaksi hubungan istimewa tersebut tidak tepat yang dilakukan secara sengaja, yaitu suatau pihak menerima manfaat yang tidak dapat diperoleh kalau tidak ada hubungan istimewa tersebut.
f. Kegagalan yang disengaja untuk mencatat atau mengungkapkan informasi yang signifikan untuk memperbaiki gambaran keuangan organisasi kepada pihak luar.
g. Aktivitas usaha yang dilarang, seperti aktivitas yang melanggar undang-undang, peraturan, atau kontrak.
h. Penyelundupan pajak,. Kecurang yang dilakukan atas kerugian organisasi umumnya adalah untuk menfaat langsung atau tidak langsung dari seorang karyawan, individual luar, atau perusahaan lain.

Beberapa contoh adalah :
a. Penerimaam penyogokan (bribes) atau pembayaran kembali
b. Pengalihan kepada seorang karyawan atau pihak luar dari suatu transaksi yang secara potensial menguntungkan, yang secara normal menghasilkan keuntungan bagi organisasi.
c. Penggelapan (embezzlement) yang ditandai oleh penyalahgunaan uang atau harta, dan pemalsuan catatan keuangan untuk menutup tindakan dengan demikian membuat diteksi sulit dilakukan.
d. Penyembunyian (concealment) yang disengaja atau penyajian yang salah dari kejadian atau data
e. Klaim yang diajukan untuk jasa dan barang yang sebenarnya tidak diberikan kepada organisasi.

  • Audit Keuangan

Audit Keuangan atau lebih tepat disebut sebagai Audit laporan keuangan merupakan penilaian atas suatu perusahaan atau badan hukum lainnya (termasuk pemerintah) sehingga dapat dihasilkan pendapat yang independen tentang laporan keuangan yang relevan, akurat, lengkap, dan disajikan secara wajar. Audit keuangan biasanya dilakukan oleh firma-firma akuntan karena pengetahuannya akan laporan keuangan.

 

Source :

Design a site like this with WordPress.com
Get started